
“Katanya, tidak sedikit di antara kawan-kawan kita di sana itu yang mengalami kepanikan luar biasa, atas mewabahnya virus itu.” Jarkembung membuka pertanyaan.
“Kamu katanya siapa? Di sana itu, di sana mana? Kamu jangan mengada-ada.” Bantah Jarkembloh.
“Loh, saya ini tidak mengada-ada kok. Saya mendengar itu dari kawan-kawan saya juga.”
“Memangnya kamu itu punya kawan lain tho, siapa yang mau berkawan dengan kamu Mbung, selain kami-kami ini?”
“Alahhh embuh… ruwet omongan sama kamu, Mbloh.”
“Hlaiya, makanya dijawab. Tinggal jawab saja, kok malah bilang ruwet. Otak kamu itu yang ruwet!”
“Memang ada yang bilang seperti itu,” Jarkodil menengahi, “ada semacam ketakutan atau trauma yang bersemayam di dalam “psikologi” mereka. Mereka takut terkena atau tertular virus itu. Sehingga membuat pikirannya sedikit bergolak. Akhirnya membuat sikap mereka begitu lebay, bahkan sampai maniak masker. Ketakutan mereka itu membuat kepanikan melebar secara massal. Di tambah lagi, adanya informasi dan berita hoax yang beredar semakin “meracuni” otak mereka.”
“Sehingga untuk waspada dan menghindari atau membebaskan kepanikan pikiran mereka, harus datang suatu himbauan terlebih dahulu.” Sahut Jarkasin.
“Kita memang semakin lama semakin tidak mandiri. Semakin cengeng dan tidak siap dengan segala kejadian yang bisa saja datang secara tiba-tiba. Yang tidak bisa diperkirakan pola gerakannya.”
“Tetapi itu ‘kan wajar, itu semacam shock terapy yang kadang membuat psikis kita agak kaget dan semacammya lagi. Jadi, wajar dong, kalau mereka trauma dan mengalami kepanikan. Kemudian hal tersebut mendorong kita supaya saling mengingatkan, agar tetap tenang dan lebih waspada.”
“Sebentar, kamu tadi bicara shock terapy. Memang apa yang diterapi. Terapi itu semacam pengobatan, bukan?”
“Menurut saya, ya pikiran mereka yang diterapi.”
“Kenapa harus diterapi? Apa ada semacam gejala yang tidak wajar?”
“Kamu ini gimana tho, kita ini tadi ‘kan memang membahas hal yang tak wajar yang sedang dialami orang-orang di sana. Mungkin termasuk pikiran atau psikis kita di sini ini juga mengalami semacam hal ketidakwajaran dan bertempat tidak sebagaimana tempat yang seharusnya.”
“Nah, ya kamu itu yang tidak wajar. Apalagi omonganmu!”
Dari beberapa riset, tapi sebenarnya bukan termasuk riset. Ini hanya semacam “analisa spekulatif” melihat dampak psikiologis yang disebabkan oleh merebaknya coronavirus ini. Orang-orang sedikit banyak mengalami gejala-gejala psikis yang seharusnya hal tersebut tidak perlu terjadi. Tetapi memang kodratnya manusia yang sering lupa dan banyak khilaf-nya, maka kita tidak bisa menyalahkan mereka secara sepihak dan berlaku tidak adil. Apalagi didorong dengan adanya berita atau informasi hoax tentang coronavirus ini. Misalnya, ada semacam hoax yang implikasinya membuat mereka semua begitu sangat lebay menanggapinya. Bahkan bersikap tidak realistis terhadap adanya covid-19 ini. Mereka menimbun masker kemudian menjual atau membelinya dengan harga yang sangat mahal, di luar batas kewajaran. Sampai-sampai masalah kualitas masker yang dipakai pun diperbandingkan dan diperdebatkan. Bilangnya, “maskermu itu tidak memenuhi syarat SNI.”, ada lagi, “masker yang saya pakai inilah yang mampu menolak menempelnya virus, maskermu itu lihat, masak cuma satu lapisan doang!”. Itu kan sangat-sangat bodoh dan buang-buang waktu, jika terus diperdebatkan.
Meski penyebar salah satu hoax coronavirus telah ditemukan dan diberi imbalan dengan penjara sepuluh tahun. Tidak ada jaminan, perkembangan hoax dan kelahirannya akan berhenti sampai di situ.
Mengenai sikap berlebihan dan lebay itu, perlu diadakan edukasi secara nyata dan harus sampai menyentuh kesadaran mereka supaya tidak bersikap mubazir. Yang tidak ada gunanya. Padahal kita semua tahu, kalau takdir “kematian” sudah akan datang menghampiri kita. Mau bersembunyi dibalik gua sejauh apa pun, bahkan sampai masuk ke lorong terdalamnya, kematian juga tetap akan terjadi, bukan?
Kita ikut perang, misalnya, tetapi karena sedikit ingin cari aman dan keselamatan, kita bersembunyi dibalik batu dan berada digaris paling belakang sendiri. Tetapi justru karena itu, kita malah terkena bom, dan mati duluan. Sedangkan yang maju di barisan paling depan malah menang. Betapa sangat “misteri” dan menjadi rahasia illahi semata, akan suatu formula bernama “kematian” tersebut.
Salah seorang anggota bertanya, “misalnya, bersikap trauma atau panik secara berlebihan yang membuat psikis kita ini terguncang dan mengalami ketidakseimbangan. Itu apakah akan berdampak pada sistem kekebalan tubuh kita? Sehingga sangat rawan untuk terkena penyakit atau dihinggapi penyakit.”
“Bisa jadi begitu,” Jarkodil mencoba menjawab, “pikiran yang terlalu rumit dan ruwet sehingga membuat kondisi psikis manusia agak rapuh. Itu dapat berdampak pada ketahanan daya tubuh manusia dan juga tentunya sistem kekebalan tubuhnya. Sebab dalam hal ini, ketika manusia mengalami kepanikan yang memicu timbulnya stres secara berlebihan dan tidak terkendali, hal itu akan menyebabkan meningkatnya hormon kortisol. Di mana dalam jangka waktu panjang, peningkatan itu akan menurunkan fungsi kekebalan tubuh manusia itu sendiri.”
Jarkasin menambahi, “maka merawat kegembiraan sembari tetap selalu menenangkan pikiran sangat perlu untuk dilakukan. Kita semua ‘kan tahu bahwa asal mula penyakit yang kita alami itu berawal dari dismanejemen yang terjadi di dalam pengelolaan pikiran kita sendiri. Dismanajemen yang terjadi pada akal pikiran kita itu akan membuat kortsleting saraf-saraf yang ada di dalam tubuh kita. Kortsleting yang terjadi itu dapat menyebabkan cara kerja yang sedang berlangsung itu, tidak dapat bekerja atau berjalan sebagaimana mestinya.”
“Tentu, orang yang sedang gembira jiwa dan pikirannya, ketika berjalan menerobos guyuran hujan akan lebih kebal ketimbang dengan orang yang saat itu sedang galau, murung, lesu, ambyar atau dalam keadaan psikis kurang begitu baik, yang akan membuat mereka lebih mudah terkena demam disertai flu.”
Coronavirus juga tentunya lebih senang dan lebih nyaman hinggap di tubuh orang-orang yang secara psikis atau jasmani tidak dalam kondisi yang baik dan sehat.
Jarkodil angkat bicara lagi, “setiap individu harus menerapkan prinsip: daya tahan, kebersihan dan kesucian hati dan diri. Caranya, yakni dengan menjaga daya tahan tubuh dengan berbagai macam sarana: termasuk menciptakan kegembiraannya di dalam jiwanya sendiri, selalu memelihara kesucian dengan tidak putus wudhu, menjaga hati agar tetap dalam kondisi “taqwallah” dan pikiran harus senatiasa “tawakkal ‘alallah”. Juga selain itu, dirasa sangat perlu untuk menghindari berpikir takabbur dan angkuh, serta lebih mengutamakan kesadaran akan ketidakberdayaan kuasa kita di hadapan Allah.”
Semua anggota KPMb berdiam diri sejenak. Karena tidak ada makanan, mereka hanya meminum air putih seadanya saja. Mereka semua tampak sangat serius dengan “lukisan” di dalam alam pikirannya masing-masing.
Jarkembung juga tak mau ketinggalan, “ada tambahan lagi, kalau memang vaksinasi untuk daya tahan dan kekebalan tubuh kita dari bahaya coronavirus belum juga ditemukan. Melakukan hal-hal yang telah disebutkan tadi sangat membantu dalam upaya kita meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Minimal dari sisi psikologis “intrisik”-nya. Selain juga, menerapkan keperluan jaga jarak atau social distancing. Yaitu, menjaga jarak sehat dengan depan belakang kanan kiri kita sendiri. Diimbangi juga dengan ber-istighfar sebanyak-banyaknya, mengaktifkan wirid penjagaan “Ya Hafidz”, “Ayat Kursiy”, dzikir “La Yadhurru” dan kalau perlu kita memunculkan vaksinasi “psikologis-batiniah” bernama “Luthfi Muhammad” sebagai metode internal dari kita.”
“Kita tidak perlu dan hanya bergantung dengan langkah dari pemerintah dalam upaya peredaan wabah ini,” Jarkasmin meyambung, “kita harus punya kesiapan dan kemandirian, serta tanggap dalam wilayah lingkup kita sendiri. Tetapi kalau memang pemerintah memberikan panduan yang sekiranya rasional dan realistis, kita juga tidak lantas menolak mematuhi dan enggan melaksanakannya. Kita akan tetap wajib untuk melaksanakannya. Kita tentunya juga sudah sangat siap dan mulai melakukan perhitungan sejak dini, apabila sudah diputuskan tempo atau jangka waktu “uzlah” dalam rangka penerapan masa inkubasi coronavirus tersebut. Dan jika memang dalam rentang jarak waktu yang telah ditentukan tersebut, terjadi suatu gejala-gejala yang mengkhawatirkan, kita wajib untuk mau melakukan ikhtiar “medis jasadiyah” dengan tetap tenang dan tawakkal. Tetapi lagi, kalau memang batas waktu yang telah ditentukan ini habis dan selesai, ternyata kita tidak terjadi apa-apa. Maka kita bisa meyakini barang satu hal, bahwa, kalau seandainya kita keluar rumah dan membaur bersama orang banyak tidak akan muncul suatu hajat mencelakai siapa-siapa melalui penularan langsung, dan tetap harus menjaga diri agar jangan sampai tertulari.”
Diskusi berjalan sangat khidmat. Mereka sangat menyerap apa saja yang telah mereka diskusikan. Mereka mengikuti jalannya diskusi KPMb ini dengan sangat seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
“Apa yang kamu tulis, Mbloh? Gayamu sok berlagak jadi notulensi.”[]
_Corona, 3
_Ahmad Miftahudin Thohari
.Ngawi, 22 Maret 2020