
Judul: Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Isi: 379 hlm; 20 cm
Cetakan: Keempat, Juni 2018
ISBN: 978-602-424-694-5
Peresensi: Dwi Parwati
Bila kalian bosan membaca novel yang berbau percintaan saja atau hanya fiktif belaka, novel Laut bercerita ini bisa dijadikan pilihan yang tepat. Laut bercerita mengajak kita untuk menyelami masa-masa era reformasi pada tahun 1998. Masa yang penuh kepahitan bagi para pembela rakyat. Masa yang begitu kelam, masa yang begitu pahit. Jika ditegaskan oleh Laela S. Chudori bahwa novel ini hanyalah fiktif namun penulis menulis berdasarkan fakta yang ada, bahkan sebelum menulis dia melakukan reset atau wawancara terhadap korban dan kerabat korban secara langsung.
Novel ini mengisahkan sosok laut bersama teman-teman aktivisnya yang berusaha membela rakyat dari keotoriteran pemerintah kala itu. Tentu bukan menjadi hal mudah bagi mereka. Mereka harus bergerak secara sembunyi-sembunyi, hidup sebagai buronan pemerintah dan hidup berpindah-pindah hingga yang paling buruk, penghilangan secara paksa. Fakta yang belum banyak diketahui oleh mahasiswa seperti saya, karena dalam pembelajaran di sekolah umum biasa sama sekali tidak dituliskan bahwa telah menghilang 13 aktivis kampus pada tahun 1998. Melalui buku Laut bercerita kita bisa mengetahui hal itu.
Mencekam, tegang, memilukan, mengharukan begitulah emosi yang saya rasakan kala membaca novel ini. Memilukan saat Laela S. Chudori menggambarkan penyiksaan-penyiksaan fisik yang dialami selama masa penangkapan Laut dan teman-temannya. Sungguh biadab dan tidak berprikemanusiaan menurut saya. Penulis sungguh berhasil membawa pembaca seakan ikut menyaksikan bahkan merasakan apa yang mereka alami kala itu.
Tidak hanya itu, novel ini juga menceritakan bagaimana perasaan keluarga, kerabat hingga kekasih yang kehilangan. Pada bagian cerita mengitu menyesakan, mereka yang menunggu tanpa ada kepastian. Bahkan bukan untuk waktu yang singkat namun sampai bertahun-tahun mereka belum sanggup menerima kenyataan yang ada bahwa anak, kekasih, kakak dan kerabat mereka mengilang tanpa jejak.
Leila S. Chudori membuat cerita dalam dua bagian, yaitu yang pertama dengan sudut pandang Biru Laut dan yang kedua dengan sudut pandang Jati Asmara, adik kandung Biru Laut. Pada bagian awal yang menggunakan sudut pandang Laut, cerita lebih mengisahkan tentang bagaimana mereka para aktivis menjalani kegiatannya yang memang ditentang oleh pemerintah, dari bersembunyi, berpindah tempat tinggal hingga tertangkap dan disiksa.
Sedangkan pada bagain kedua yang menggunakan susut pandang Asmara, lebih diceritakan tetntang bagaimana perasaan dan situasi kondisi mereka yang kehilangan. Pada bagian ini cerita begitu memilukan dan menyayat hati. Pembaca benar-benar seperti merasakan kehilangan juga. Saya yakin pada bagian ini tidak ada pembaca yang tidak ikut tersayat hatinya. Bahkan saya sendiri sampai berurai air mata ketika membacanya.
Novel ini sungguh luar biasa, karena dapat memberi kita wawasan lebih terkait sejarah bangsa kita sendiri. Namun menurut saya ada beberapa kekurangan juga dalam novel ini, yaitu mengenai alur ceritanya, novel Laut Becerita menggunakan alur campuran, maju-mundur. Bagi teman-teman yang belum terbiasa dengan alur ini pasti akan sedikit kesulitan dalam memahaminya. Butuh sedikit konsentrasi dan pemahaman agar kita dapat mengikuti alur ceritanya. Selain menjadi kekurangan alur cerita juga menjadi nilai lebih novel ini, dengan menggunakan alur maju-mundur cerita menjadi lebih menarik dan membuat kita lebih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.