Ragam Budaya Salaman Bentuk Berkomunikasi Sebagai Upaya Pencegahan Penyebaran Virus Corona (COVID-19)

  • By locus
  • Maret 31, 2020
  • 0
  • 375 Views

Lpmlocus.or.id-Dunia sedang tidak baik-baik saja, tercatat per tanggal 30 Maret 2020 dari situs resmi yang dibangun oleh pemerintah RI www.covid19.go.id  saat ini virus corona (COVID-19) telah tersebar di 203 Negara di dunia. Dengan kasus terkonfirmasi sekitar 638.146 dan  kematian 30.039. Di Indonesia sendiri untuk persebaran kasus ini dapat dilihat di laman covid19.go.id jumlah positif virus corona ada 1.414 serta yang berhasil disembuhkan ada 75 orang, kemudian untuk korban meninggal dunia ada 122 jiwa yang tersebar di 28 Provinsi. Data ini tentunya akan selalu berubah dari hari ke hari sesuai dengan perkembangan pelaporan kasus tercatat oleh BNPB.

Apa Itu Virus Corona (COVID-19)  & Gejalanya?

Seperti yang telah diumumkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) COVID-19 sebagai Pandemi. Artinya, virus corona telah menyebar ke hampir seluruh dunia sehingga kemungkinan orang-orang akan terkena infeksi dari virus ini. COVID-19 merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan manusia dan disebabkan oleh novel coronavirus atau virus corona baru kemudian pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina, pada akhir 2019 lalu. Pengumuman COVID-19 sebagai pandemi ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Rabu (11/3/2020).

Dikutip dari CNBC-Indonesia Menurut World Health Organization (WHO), COVID-19 menular melalui orang yang telah terinfeksi virus corona. Penyakit dapat menyebar melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut ketika seseorang yang terinfeksi virus ini bersin atau batuk. Tetesan itu kemudian mendarat di sebuah benda atau permukaan yang lalu disentuh dan orang sehat tersebut menyentuh mata, hidung atau mulut mereka. Virus corona juga bisa menyebar ketika tetesan kecil itu dihirup oleh seseorang ketika berdekatan dengan yang terinfeksi corona.

WHO menambahkan gejala COVID-19 yang paling umum adalah demam, kelelahan, dan batuk kering. Beberapa pasien mungkin mengalami sakit dan nyeri, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan atau diare. Gejala-gejala ini bersifat ringan dan terjadi secara bertahap. Namun, beberapa orang yang terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala apa pun dan tak merasa tidak enak badan. Kebanyakan orang (sekitar 80%) pulih dari penyakit tanpa perlu perawatan khusus. Sekitar 1 dari setiap 6 orang yang mendapatkan COVID-19 sakit parah dan mengalami kesulitan bernapas. Orang yang lebih tua, dan mereka yang memiliki masalah medis seperti tekanan darah tinggi, masalah jantung atau diabetes, lebih mungkin terkena penyakit serius. Orang dengan demam, batuk dan kesulitan bernapas harus mendapat perhatian medis.

Gejala COVID-19 ini pada umumnya berupa demam 38°C, batuk kering, sesak nafas. Kemudian jikalau kalian sehabis berpergian dan 14 hari kemudian mengalami gejala ini, segera ke rumah sakit rujukan untuk memeriksakan diri lebih menyeluruh. Saat ke rumah sakit dihimbau untuk  jangan menggunakan transportasi umum, untuk apa? Untuk mencegah penyebaran Covid-19 lebih luas, dilansir dari Account Whatsapp resmi layanan publik dan pemerintah COVID19.GO.ID.

Lama Waktu Inkubasi Virus Corona (2019-Ncov)

Waktu yang diperlukan sejak tertular atau terinfeksi hingga muncul gejala disebut masa inkubasi. Saat ini masa inkubasi virus corona (2019-nCoV) diperkirakan antara 21 hari, dan perkiraan ini dapat berubah sewaktu-waktu sesuai perkembangan kasus. Jika merujuk data kasus penyakit akibat coronavirus sebelumnya, seperti MERS dan SARS, masa inkubasi 2019-nCoV juga bisa mencapai 14 hari. Setiap orang berisiko terkena COVID-19, tetapi risikonya tergantung pada tempat tinggal atau tempat yang dikunjungi baru-baru ini. Risiko infeksi lebih tinggi di daerah di mana sejumlah orang telah didiagnosis dengan COVID-19. Hingga saat ini, sudah dipastikan ada penularan antar-manusia. Biasanya, penularan dapat terjadi setelah ada kontak erat dengan pasien terinfeksi virus corona, seperti di tempat kerja, rumah atau fasilitas pelayanan kesehatan dan lainnya. Lebih dari 95% dari semua kasus COVID-19 terjadi di Cina, dengan sebagian besar di Provinsi Hubei. Untuk orang-orang di sebagian besar belahan dunia lainnya, risiko Anda terkena COVID-19 saat ini rendah, tetapi, penting untuk mengetahui situasi dan upaya kesiapsiagaan di wilayah masing-masing. Orang dapat tertular virus COVID-19 dari orang lain yang memiliki virus. Penyakit ini dapat menyebar dari orang ke orang melalui cairan dari hidung atau mulut yang menyebar ketika seseorang dengan COVID-19 batuk atau bersin. Cairan ini mendarat pada benda dan permukaan di sekitar orang tersebut. Orang lain kemudian kena COVID-19 dengan menyentuh benda atau permukaan ini, kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut mereka.

Pencegahan Penyebaran Virus Corona (COVID-19)

Cara terbaik mencegah adalah tidak terpapar virus corona. Kebanyakan orang tertular langsung akibat menghirup percikan batuk atau napas orang sakit. Orang juga bisa tertular virus karena menyentuh permukaan benda yang tercemar percikan batuk atau napas orang sakit. Para ahli mengatakan virus corona dapat hidup di permukaan benda selama beberapa jam sampai beberapa hari dan karena itu, cuci tangan pakai sabun dan air mengalir menjadi sangat penting.

 Kurangi kontak langsung (Social Distancing) ketika orang-orang yang sakit COVID-19 tengah diisolasi tapi menyebarkan virus corona secara cepat ke wilayahnya melalui kontak jarak dekat, maka pola itu disebut sebagai penularan komunitas (community transmission). Semakin meluas penularan komunitas yang terjadi, maka tindakan tambahan perlu dilakukan, yaitu mengurangi kontak antara satu warga dengan warga lain di wilayah itu (social distancing atau di sini akan disebut sebagai mengurangi kontak antarwarga). Ajang yang mendatangkan keramaian seperti pertandingan bola, konser musik, acara keagamaan dan pertemuan besar sudah ditunda di mana-mana, di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia lain.

Termasuk tindakan mengurangi kontak antarwarga adalah mengurangi kegiatan penyuluhan di tempat umum, menutup sekolah dan mengurangi penggunaan transportasi umum yang tidak penting. Tindakan mengurangi kontak antarwarga dapat ditingkatkan ke tahap yang lebih tinggi dengan pertimbangan penyebaran yang semakin meluas dan dengan mempertimbangkan antara efektivitas dan dampaknya pada masyarakat. Bila penyebaran virus terjadi di lokasi tertentu, tindakan mengurangi kontak antarwarga pertama-tama dilakukan di lokasi-lokasi tersebut dan tidak langsung di tingkat nasional.

Apa Itu Social Distancing atauPhysical Distancing?

Sebenarnya akhir-akhir ini WHO menganggap istilah social distancing kurang tepat,  kemudian mulai mengenalkan physical distancing sebagai pengganti.

“Kami mulai mengatakan physical distance karena kami ingin orang-orang tetap terhubung. Jadi, temukan cara untuk tetap terhubung secara sosial, bisa melalui berbagai media sosial agar tetap terhubung dengan orang lain karena kesehatan mental Anda sama pentingnya dengan kesehatan fisik Anda,” ucap Dr Maria Kerkhove, seorang ahli epidemiologi WHO, seperti dikutip laman IFL Science.

WHO ingin agar masyarakat untuk saling menjaga jarak secara fisik, bukan secara sosial. Karena itulah diguankan istilah physical distancing bukan lagi social distancing. Cara ini yang direkomendasikan kepada publik untuk mencengah, melacak dan menghambat penyebaran virus. Caranya dengan menjaga jarak dengan mereka yang sedang sakit. Termasuk tidak menghadiri pertemuan dengan jumlah banyak. Tujuannya agar virus tersebut tidak tertular ke orang yang sehat. Menurut WHO juga dalam kasus corona, masyarakat harus menjaga jaga minimal dua meter dari orang lain ketika berinteraksi dan Jangan bersentuhan. Bagi mereka yang merasa terinfeksi dan sudah terinfeksi harus mengisolasi diri secara mandiri. Menjaga jarak fisik atau physical distancing antara diri sendiri dan orang lain, memainkan peran penting dalam membantu mencegah penyebaran virus karena COVID-19, menyebar dari orang ke orang ketika seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa dengan adanya pandemi COVID-19 ini sangat berdampak pada segala sektor  baik pada sektor ekonomi, sosial, politik, bahkan pendidikan. Berbagai upaya untuk menghentikan penularan virus ini telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, mulai dari larangan untuk tidak bersalaman, selalu mencuci tangan, menjaga jarak atau social distancing. Akibatnya sekolah-sekolah, kampus, dan lembaga pendidikan bahkan kantor yang berkemungkinan terpapar virus ini pun di harapkan untuk belajar serta bekerja di rumah selama masa pandemi berlangsung. Pemerintah baik pusat maupun daerah telah menetapkan status wilayahnya agar para masyarakat menjaga agar tetap dalam rumah. Disebagian daerah pun telah diadakan semi-lockdown untuk mengantisipasi penyebaran COVID-19.

Social Distancing dalam Komunikasi

Syarat interaksi sosial adalah adanya komunikasi sehingga memungkinkan terjadinya kerjasama. Kehidupan bermasyarakat dapat diamati dari adanya interaksi timbal balik antara individu satu dengan yang lain. Berinteraksi dengan orang lain tidak hanya membutuhkan kemampuan komunikasi verbal atau linguistik semata, namun kemampuan komunikasi nonverbal juga harus dimengerti. Dalam hal ini, kita akan membahas mengenai komunikasi non-verbal masyarakat dengan adanya masa pandemic COVID-19 terhadap kegiatan interaksi sosial dalam kehidupan masyarakatnya melalui budaya salaman. Salaman sebagai bagian dari komunikasi non-verbal diberbagai lapisan masyarakat sudah selayaknya kita pahami. Selanjutnya dalam masa pandemi ini cara masyarakat berkomunikasi pun sedikit mengalami perubahan. Cara-cara berkomunikasi di kehidupan sosial masyarakat menjadi terhambat dengan adanya social distancing, namun hal itu tidak menjadi halangan krusial karena di era industry 4.0 kita telah dimudahkan dengan adanya teknologi informasi dimana kita dapat tetap terhubung satu sama lain walaupun berjarak secara real time. Lalu bagaimana efek atau dampak yang terjadi dengan adanya hal ini terhadap komunikasi secara langsung atau tatap muka. Ini tentunya akan banyak hal yang terjadi pada bentuk komunikasi sosial.

Di kalangan dunia, gesture tubuh mengangkat dan membuka tangan atau biasa kita ketahui dengan bersalaman menjadi cara memulai berkomunikasi secara non-verbal berkaitan dengan komunikasi yang menandai adanya pertukaran pesan melalui simbol-simbol serta yang lainnya. Sedikit sejarah yang menyebutkan awal budaya salaman ini yaitu diketahui dari teks dan lukisan kuno sekitar abad ke- 5 Sebelum Masehi (SM) yang ditemukan para arkeolog. Teks dan lukisan kuno ini memperlihatkan sikap dua orang yang saling berjabat tangan. Ada banyak lukisan yang menggambarkan pasukan atau tentara yang sedang berjabat tangan. Senjata sering dibawa dengan tangan kanan, maka setelah itu untuk seterusnya berjabat tangan dengan tangan kanan menjadi kebiasaan yang sopan sampai saat ini. Selain mengecek apakah membawa senjata atau tidak, berjabat tangan atau bersalaman ini bisa digunakan juga sebagai tanda perdamaian. Tanda yang menunjukkan bahwa tidak ada senjata saat melakukan pertemuan. Nah, sejak saat itu, kebiasaan ini banyak dilakukan di berbagai dunia. Cara ini juga menandakan awal dari pertemuan kepada orang yang baru akan dikenal.

Ragam Budaya Salaman Sebagai Proses Komunikasi Antar Budaya

Komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan membangun hubungan antar sesama manusia, melalui pertukaran informasi, untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain, serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu. Sedangkan menurut D. Lawrence Kincaid komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama yang lainnya, yang pada gilirannya akan tiba saling pengertian yang mendalam. Kita mempersepsi manusia tidak hanya lewat bahasa verbalnya bagaimana bahasanya (halus, kasar, intelektual, mampu berbahasa asing dan sebagainya), namun juga melalui perilaku non verbalnya. Menurut Larry A SaMovar dan Richard E porter, komunikasi nonverbal mencakup Semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang memiliki nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima. Sebagaimana kata-kata, kebanyakan isyarat non-verbal juga tidak universal, melainkan terikat oleh budaya. Komunikasi non-verbal meliputi ekspresi wajah, nada suara, gerakan anggota tubuh, kontak mata, rancangan ruang, pola-pola perabaan, gerakan ekkspresif, perbedaan budaya, dan tindaka-tindakan lain yang tidak menggunakan kata-kata. Salaman atau berjabat tangan menjadi budaya yang telah kita pahami, bahkan menjadi suatu hal yang sakral apabila kita lihat salaman pada saat hari raya idul fitri atau pada ritual sungkem pada acara pernikahan ini kaitannya dengan budaya turun-temurun. Pemahaman atas komunikasi non-verbal lebih penting dari pemahaman atas kata-kata verbal yang diucapkan atau yang ditulis.

Menurut Purwasito komunikasi bersifat dinamik, artinya komunikasi adalah aktivitas orang- orang yang berlangsung terus menerus dari generasi ke generasi dan mengalami perubahan – perubahan pada pola, isi dan salurannya. Budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan oleh karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Ini berkaitan dengan Pola komunikasi sirkular yang didasarkan pada perspektif interaksi yang menekanknan bahwa komunikator atau sumber respon secara timbal balik pada komunikator lainnya. Perspektif interaksional ini menekankan tindakan yang berisfat simbolis dalam suatu perkembangan yang bersifat proses dari suatu komunikasi manusia.

Disinilah hubungan antara fenomena yang terjadi saat berlangsungnya pandemik COVID-19. Telah dijelaskan tentang virus ini dan pencegahannya melalui adanya social distancing, kemudian disampaikan fenomena wabah ini jika dilihat dari sudut pandang komunikasi antar budaya dengan bentuk salaman sebagai komunikasi non-verbal. Muncul beberapa cara bentuk berkomunikasi dengan tanpa berjabat tangan. Dikutip dari berbagai media dipaparkan bahwa dengan adanya pencegahan penyebaran virus ini maka diharapkan untuk menjaga jarak dengan antar orang lain. Jika selama ini, banyak orang, utamanya para santri dikenal senang ngalap berkahnya kiai dengan mencium tangan kiainya. Maka dari itu jangan heran kalau santri bertemu dengan kiai, apalagi kiai besar, mereka tak segan untuk langsung berebut mencium tangan bolak-balik.  Namun, pasca merebaknya kasus virus corona ini, salah satu ritual ngalap berkah kiai melalui cium tangan ini tampaknya bakal berkurang drastis. Kini, mulai banyak acara yang melibatkan banyak massa mengurangi aktivitas jabat tangan apalagi mencium tangan, termasuk yang melibatkan kiai atau ulama. Untuk itu ada salam corona yang disampaikan oleh KH Ma’ruf Amin, dikutip dari CNN-Indonesia Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengenalkan ‘salaman corona’ sebagai alternatif jabat tangan di tengah virus corona (COVID-19) yang mewabah di Indonesia. Salaman itu dia cetuskan guna mencegah penularan virus corona. Salaman corona dilakukan dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada tanpa menyentuh telapak tangan satu sama lain untuk mencegah merebaknya virus corona di Indonesia. Ma’ruf memperkenalkan salaman corona saat membuka Musyawarah Nasional V Asosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (Adeksi) di Hotel Lombok Raya, Mataram, NTB, Rabu (11/3). 

Tak hanya itu saja sekarang sedang muncul ragam bentuk salaman yaitu Salam Siku, salam itu disebut sebagai pengganti salam berjabat tangan. Salam ini dengan cara menempelkan atau mengadukan antar saling siku. Tujuannya mencegah penyebaran virus corona alias COVID-19. Lingkungan Istana Kepresidenan juga mulai membudayakan salam itu. Ini sudah dipraktikkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan mantan Wapres Jusuf Kalla (JK). Salam siku dilakukan saat keduanya bertemu Wapres Ma’ruf Amin di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (12/3) dilansir dari radartegal.com. Namun pendapat lain juga disampaikan oleh Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), memilih cara lain dalam bersalaman. Tedros memilih bersalaman dengan cara menempelkan tangan di dadanya daripada saling menempelkan siku atau lengan tangan dengan orang lain. Artinya, cara salaman WHO sebaiknya tidak bersentuhan langsung karena masih berpotensi terjadinya penularan atau penyebaran Virus Corona atau COVID-19. “Selama #COVID19, saya memilih untuk hand-on-heart daripada hand shake,” ujar Tedros dalam cuitan di akun twitternya.

Kemudian di Jawa Barat dapat dilihat pada laman web Jabar, Gubernur Jawa Barat, Mochamad Ridwan Kamil mengajak masyarakat untuk melakukan Salam Sunda, yaitu merapatkan kedua tangan dan disimpan didepan dada sambil menganggukkan kepala untuk mengganti salam berjabat tangan, menyusul terus merebaknya kasus COVID-19.  “Kami sudah menyepakati di Jawa Barat salamannya begini saja (merapatkan kedua telapak tangan) kalau ketemu, karena penyebaran virus itu dari bersin, batuk dan salaman berjabat tangan, setelah berjabat tangan megang muka masing-masing, nah itu sumbernya,” katanya.

Menurut Gubernur, dengan Salam Sunda tersebut minimal ada gestur individual tanpa mengurangi rasa pertemanan dan persahabatan yang sebenarnya budaya Sunda sudah melakukannya. “Saya kira Salam Sunda ini sudah menyimpulkan rasa hormat. Jadi kurangi jabat tangan dan cipika cipiki,” ucap Gubernur, usai Rapat Penanganan COVID-19 di Jawa Barat Melalui Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Resiko Penularan dan Pengendalian Infeksi COVID-19, di Gedung Sate, Jumat (13/03).

Itulah sekian dari banyaknya alternatif berkomunikasi secara non-verbal yang digunakan untuk pencegahan penyebaran COVID-19 agar dapat dimaklumi serta dipahami secara seksama. Bagaimanapun juga dengan upaya inilah fenomena wabah dapat kita minimalisir sedemikian rupa. Jika semua orang ikut bersama-sama mengikuti dan paham akan hal ini tidak menutup kemungkinan penyebaran virus dapat terhenti. Banyak harapan akan keadaan membaik, sebab jika keadaan ini tidak berakhir maka akan banyak muncul masalah-masalah baru mengingat pertumbuhan ekonomi, social, dan politik bahkan pendidikan akan terhambat. Untuk itu dimohon untuk segenap masyarakat ikut andil dalam pencegahan penyebaran COVID-19 ini.

Penulis : Rahmat Bilal
Editor : Hanum Bella

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.